Kamis, 12 November 2009

Kembalinya Prilaku Masyarakat Gayo ke Jaman Sebelum Nabi Lahir

Marah ya dengan Judul tulisan ini.. semua tersentak dan tidak setuju dangan ungkapan itu. Hemm tapi kalimat ini hanya sebagai terusan dari ungkapan seorang tokoh Gayo asal teritit beliau juga DPRK bener meriah, sambil bersedih beliau berkata seperti itu, tutur sapa telah hilang. adat dan agama telah di lupakan, dan di tinggalkan, Kenapa??? penulis juga nga' tau kenapa.. tpi coba kita telususri penyebabnya, kenapa beliau berkata demikian mungkin ada benarnya.
Suatu hari penulis bertemu dengan seorang teman lama kebetulan baru datang dari Takengon... lama cerita-cerita sampailah kesebuah cerita, di mana katanya sekarang untuk mencari ganja sekarang susah.. dan pemakai katanya gengsi untuk mencari ganja, sekarang yang di kenal istilah mereka gule ( sabu ), kalau temennya ada yang pulang dari medan, yang di tanya " bawa gula ke kalaian wey" bandarnya dari berbagai kalangan dan konon PNS juga ada dari oknum militer, ( perlu di selidiki hal ini). kita pasti telah banyak yang tau soal ini, cerita lain digusurnya Rumah Panti Asuhan Budi Luhur, Teman kita Win wan Nur dan kawan2 terus berjuang.. Kita doakan semoga Pemimpin kita di beri hati nurani yang mengedepankan kesejahteraan Yatim Piatu dan pakir miskin. ada lagi yang nga’ kalah Hebohnya Di sergapnya Rumah Wakil DPRK yang di sinyalir markas miras dan perjudian. Belum lagi cerita soal PSK yang tinggal di sebuah gubuk reot di salah satu daerah di takengon (sebut saja daerah jelobok), PSK ini menyekolahkan adik-adiknya dengan menjual diri, tapi masyarakat ingin mengusir PSK dari kampung tersebut, segerombolan ibu-ibu dan aparat setempat mendatangi rumah PSK tersebut, dan kata mereka segera angkat kaki dari kampung sini, salah seorang pendemo berteriak, keluarlah si PSK ini dari dalam gubuknya, dengan tenang dia barkata, kalau saya di usir dari sini.. saya akan sebarkan siapa2 saja laki2, suami-suami kalin yang pernah tidur sama saya... hampir 80% laki-laki kampung sini pernah tidur sama saya.. sepontan ibu2 dan aparat desa kembali ke rumah masih2 sembari di kepala mereka ada tanda tanya besar. dan banyak lagi cerita2 yang bukan hanya di lakukan oleh masyarakat sipil tapi para oknum2 aparatur pemerintahan. Kenapa???
penulis juga belum tau.. tapi coba baca tulisan Pak Yusra Habib http://mk-mk.facebook.com/note.php?note_id=73360722010, Intinya pak yusra menjelaskan seluruh aspek kegiatan kebudayaan tidak lepas dari tatanan keagamaan yaitu edet peger ni agama, Coba kita baca di tulis Oleh SUBAYU LOREN http://kenigayo.wordpress.com/2009/01/19/bila-keislaman-masyarakat-gayo-kembali , dikatan bahwa Masyarakat Gayo yang menyebut dirinya dengan “Urang Gayo”, adalah pemeluk agama Islam. Secara lahiriah ke-Islaman orang Gayo dapat dilihat dari pola perkampungan dengan bangunan Mersah, Joyah dan Mesegit. Bagi masyarakat Gayo, agama Islam dengan segala Akidah dan Kaidahnya merupakan acuan utama perilaku mereka yang bergandeng dengan norma Adat. Keterjalinan antara Agama (Milad) dan Adat ini terekam jelas dalam ungkapan “Edet mungenal hukum mubeza”Sejarah mengungkapkan banyak Ahli agama yang berasal dari Gayo, mulai memberikan pengajaran agama dengan syair-sair..atau membangun pasantren-pasantren, kita misalnya tengku Abdul Kadir atau yang di kenal dengan nama tengku Pasir mendirikan pasantren tahun 1942, beliau tahun 1925 belajar di pasantren Kenawat yang di asuh oleh tengku Kadhi Rampak, dan melanjutkan ke pesisir pasantren pulokitun cut meurak diantaranya yang keluar dari pasentren ini termasuk ilyas leube, prof. dr. tgk. H. baihaqi. A.k. Ulama pelopor kaum Mude Tengku abdul Jalil .. juga membagun yayasan Islam PI atau mesjid Taqwa di bale yang di lanjutkan oleh anaknya tengku murni Ahli tafsir Alqur'an dan tengku kaum tue yaitu Tengku H Abd Rahman pendiri masjid bebesen ada tengku Ashaluddin pendiri Panti Asuhan Budi luhur belum lagi ahli2 syair sejarah Tengku-tengku tersebut bisa anda baca di http://tgk-sulis.blogspot.com dan generasi terakhir kita pasti kenal dengan Tengku Ali dJadun, Tengku Drs Mahmud Ibrahim, Tengku Abubakar Bangkit, Tengku Ali Salwani, Tengku AS Muda dll... Mereka Belajar tahun 1925 lho bagai mana tahun 200an 300an.

Kenapa Penulis bercerita tentang sejarah tengku-tengku tersebut, karena generasi 60an, 70an, 80an, 90an,apalagi tahun 200an tidak banyak lagi orang tua kita yang sengaja menyekolahkan anak-anak mereka ke pasantren, seperti kakek-kakek kita dulu menyekolahkan mereka kesekolah2 agama, Pasantren dll. Tidak banyak lagi kita liat adanya pengajian rutin di mesjid-mesjid dan mersah atau joyah..tanya pada kita generasi facebookers yang membaca tulisan ini...berapa banyak dari kita mengaji rutin di mesjid2 atau mersah joyah yang diwajibkan oleh orang tua kita, Dan ternyata banyak juga kawan-kawan kita belum bisa baca alqur'an untuk itulah penulis juga tidak menyalahkan atas komentar kawan-kawan kita yang tidak mengacu kepada budaya dan agama saat mendukung Qory Putri Indonesia.
Kembali ke Adat budaya kita, tutur sapa. bahasa sehari-hari panggilan Ama ine telah jarang kita saksikan, apalagi kil ngah, encu dll, kebudayaan hanya kegiatan pementasan dan pameran, di tambah lagi banyak peninggalan-peninggalan yang di berikan pemerintah kita di sana untuk cendra mata para pejabat-pejabat pusat yang berkunjung kedaerah Gayo, di tambah kurangnya kepedulian pemerintah terhadap Budaya Gayo itu sendiri,Dengan penomena yang terjadi saat ini... Salahkah mereka yang menjadikan perjudian dan miras menjadi kegiatan sehari-hari... salahkah mereka yang memakai gule sebagai bagian dari kehidupannya...bagai mana dengan 10.. 20... 30 tahun yang akan datang kalau saat ini situasinya seperti ini Adat dan Agama tidak lagi menjadi Acuan, anak cucu kita nanti bagai mana...?? padahal kita tau semua Bangsa Yang Kuat adalah bangsa yang mempertahankan bahasa dan budayanya.. I LOve Gayo Epul Aman Rama

Tidak ada komentar: